ALIEN Science 7

Rabu, 15 Februari 2012

Shalat Shubuh, Menguak Misteri

Sholat merupakan sarana seorang hamba melakukan perbaikan rohani dengan Allah SWT, dengan perbaikan rohani tersebut diharapkan manusia mampu untuk merekontruski kahidupan pribadi, keluarga, dan social kearah yang positif. Namun sayang kedahsyatan ibadah sholat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia tidak mampu dilakukan dengan senang hati tetapi malah menjadikan sebuah beban yang berat dalam hidupnya. Sering kita jumpai dalam pergaulan sesama umat islam adanya kata-kata kurang sreg ketika mendegarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin.
Melihat fenomena tersebut seorang pemikir Islam ‘Imad ‘Ali ‘Abdus Sami’ Husain Doktor Bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Ahzar Kairo, menulis buku dengan judul Keajaiban Sholat Subuh: Menguak Misteri Kemuliaan dalam Sholat Subuh.
Dalam tulisan ini beliau mengungkapkan bahwa ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika melakukan ibadah sholat terutama sholat subuh;
Pertama, Terapi Jiwa, Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Batas antara kita dengan orang-orang munafik adalah menghadiri sholat isyak dan subuh, sebab orang-orang munafik tidak sanggup menghadiri kedua sholat tersebut” (Muwattho’ Imam Malik). “Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak” (HR. Ahmad).
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA., ia berkata, “Kami melaksanakan sholat Subuh berjamaah bersama Nabi SAW, dan tidak ada yang tidak ikut serta selain orang yang sudah jelan kemunafikannya”.
Dari beberapa riwayat diatas memberi peringatan kepada kita bahwa manfaat yang pertama dari sholat subuh adalah membersihkan jiwa kita dari sifat munafik, karena munafik merupakan salah satu kategori manusia disebut sakit jiwanya.
Orang munafik adalah seorang yang dalam hidupnya selalu senantiasa mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, ia memiliki dua wajah (kiblat), kiblat yang positif dan kiblat yang negative. Kadangkala dalam hatinya ingin berbuat baik baik tetapi jiwa, pikiran dan fisiknya tidak mampu untuk menyambut kemuan hati tersebut. Sehingga orang munafik dalam hidupnya selalu dalam keadaan jiwa yang gelisah. Jiwanya tidak merasa tenang maupun tentram, yang ada di benaknya adalah keragu-raguan, malas, putus asa, patah semangat, mencari muka dan selamat hanya untuk dirinya sendiri. Yang dikeluarkan dari mulutnya adalah ucapan-ucapan hanya untuk cari muka, aktifitas yang dilakukan hanya dalam rangka untuk membuat pimpinan senang.
Sholat subuh yang diperintahkan Allah SWT kepada umat muslim merupakan terapi ruhani untuk menyucikan jiwanya dari penyakit munafik tersebut, sehingga kita menjadi manusia yang bermanfaat hidupnya baik di dunia maupun di akherat, baik di bumi maupun di langit.
Kedua, Terapi Aqal, sebagaimana firman-Nya:
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Fajr, 89: 1-5)
Penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutub RA.) berkata setelah menyebutkan ayat-ayat ini, “Ayat-ayat ini bukan sekedar kata-kata dan lafazh, ia adalah nafas-nafas yang terkandung dalam waktu fajar, dan titik-titik embun yang bercampur dengan wewangian, seruan keselamatan yang melegakan hati, bisikan lembut untuk ruh, sentuhan yang diarahkan kepada hati, itulah udara fajar, udara yang familiar dan sangat menyenangkan, disaat spirit ibadah yang khusyuk bertemu dengan nafas alam yang tenang, di saat ruh-ruh yang tunduk beribadah dan ruh-ruh malam hari pilihan serta ruh fajar yang indah saling memberikan respon. Waktu fajar, yang merupakan saat-saat kehidupan mulai bernafas dalam kemudahan, kegembiraan, senyuman, keakraban, kecintaan, dan kerelaan hati. Saat dimana alam yang tertidur mulai bangun pelan-pelan seolah-olah nafasnya saling berbisik, dan seolah suasana merekahnya adalah do’a.
Waktu fajar merupakan kondisi yang menyehatkan, karena pada waktu itu tumbuh-tumbuhan sedang mengeluarkan oksigen yang masih bersih yang sangat bermanfaat bagi kehidupan (manusia). Oksigen tersebut yang akan menyegarkan tubuh. Selain itu dengan menghirup udara yang masih bersih dan segar akan menjadikan otak menjadi fresh, dengan kondisi otak yang segar seseorang akan mampu untuk berfikir yang jernih dan mampu memanaj kegiatan pada hari tersebut. Begitu juga sebaliknya apabila waktu fajar belum melakukan sholat subuh (sampai subuhnya kesiangan), maka akan mengakibatkan tubuh menjadi lelah dan capek, pikiran suntuk jiwa tidak tenang yang akan membawa akibat kepada kacau-balau agenda kegiatan pada hari itu.
Ketiga, terapi finasial, seorang hamba, walau sezuhud apapun dan sangat tidak peduli dengan urusan dunia, ia tetap senang kalau lapang rezekinya. Minimal mencukupi kebutuhan diri sendiri, untuk menyelamatkan muka dari hinanya meninta-meminta. Dan demi Allah, untuk mencapai ini jalannya adalah dengan menaati Allah.
Pernah suatu ketika Nabi SAW sholat Subuh, begitu selesai beliau pun kembali ke rumah dan mendapati putrinya, Fathimah, sedang tidur. Maka beliaupun membalikkan tubuh Fathimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya, “Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Robbmu, karena Allah SWT membagi-bagikan rezeki para hamba antara sholat Subuh dan terbitnya matahari” (HR. Mundziri).
Ini bukan berarti orang yang pergi melaksanakan sholat Subuh pasti pulang dengan kantong penuh uang,--seperti asumsi para penyembah dunia dan budak uang--, atau seperti dikatakan orang-orang yang suka mempermainkan bahwa setelah matahari terbit berarti terputus sudahlah rezeki! Bukan sama sekali bukan. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ketaatan kepada Allah SWT dengan cara menjaga untuk terus ikut dalam sholat Subuh berjamaah secara konsisten, akan mendatangkan taufik dari Allah SWT, sehingga nantinya seorang hamba memperoleh keridloan dan kelurusan dari Rabbnya, yang pada gilirannya ia akan menghabiskan sisa harinya dalam pertolongan dan kemudahan dari Allah dalam urusan-urusannya.
Memang benar, taat kepada Allah SWT sudah cukup menjadi jaminan kantong ini pasti terisi penuh dengan uang. Bagaimana tidak, sementara Allah sendiri telah berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. ATh-Tholaq, 65: 2-3).

Akhir-akhir ini, betapa banyak manusia yang tidak menjaga adab dengan baik terhadap Allah SWT, Sang Pencipta, padahal penyebabnya adalah kemalasan mereka sendiri. Misalnya, seseorang pergi utnuk menyelesaikan salah satu urusannya, tetapi kebutulan tidak berjalan dengan baik, maka tiba-tiba saja ia memaki hari, mengkabinghitamkan ini dan itu tanpa mau mengoreksi kekurangan yang ada pada dirinya.
Allah SWT memberitahukan kepada kita bahwa rezeki bias bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Firman-Nya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-‘Arof, 7: 96).
Firman-Nya yang lain:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. diantara mereka ada golongan yang pertengahan. dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” (QS. Al-Maidah, 5: 66).
Nabi Muhammad SAW, Sang Nabi yang jujur dan terpercaya, mengabarkan kepada kita kalau Allah telah mewahyukan kepada beliau bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai ia habiskan jatah rezekinya, setelah itu beliau perintahkan kita dengan sabdanya, “Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah cara mencari rezeki. Jika rezeki salah seorang dari kalian lambat, maka janganlah ia mengejarnya dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena anugerah Alla tidak dicapai dengan maskiat” (HR. Hakim).
Adapun para pencari akhirat, mereka memiliki anggapan berbeda kaitannya dengan rezeki yang ada di anatara sholat Subuh hingga terbitnya matahari. Mereka melihat diberikannya taufik untuk bisak sholat Subuh saja sudah merupakan rezeki terbesar. Kalau setelah itu ia diberi kemudahan untuk berdzikir setelah sholat Subuh hingga terbitnya matahari, berarti Allah telah memberikan rezeki terbaik kepadanya.
Hari ini, banyak sekali orang yang memperbincangkan produktivitas kerja dan program-program untuk memacu diri kepada kemajuan dan peradaban. Demi Allah produktivitas tidak mungkin bisa diraih oleh seseorang apabila tidak diawali dengan sholat subuh, karena pada waktu subuh sampai terbitnya matahari itulah Allah membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Seorang manusia yang taat kepada Allah serta taat menjalankan sholat yang telah diperintahkan maka yakinlah bahwa kehidupan di dunia pasti akan terjamin. Begitu pula sebaliknya apabila seseorang lalai atau sampai lupa melakukan sholat subuh maka tunggullah kefaqiran yang akan menghimpit kehidupannya.

Do'a Sarana Multifungsi

Keajaiban doa itu begitu nyata bagi beliau, mampu menghilangkan penyakit yang diderita. itulah yang dituturkan oleh seorang bapak semasa sehat dirinya lupa namun disaat sakit telah membuatnya lebih bersabar karena dirinya yakin itu adalah wujud kasih sayang Allah pada dirinya. Awalnya ia mengetahui bahwa dirinya menderita ‘Verkalking’, yakni sakit disebabkan pengapuran pada persendian kaki sehingga kalau digerakkan kakinya terasa sangat sakit menyiksa. Menurut dokter ahli tulang tempat dimana ia berobat mengatakan jalan satu-satunya untuk menyembuhkan sakit adalah dengan operasi. Beliau tidak malah langsung melaksanakan saran dokter namun malah bersama anak dan istrinya malah bershodaqoh untuk Rumah Amalia. Keyakinannya bahwa ‘Obatilah orang-orang sakit dengan shodaqoh dan bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bala’ dengan doa’ ‘itulah satu-satunya cara kami memohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan kesembuhan.’ begitu tuturnya.

Entahlah, apa yang sesungguhnya terjadi, begitu bangun untuk menunaikan sholat subuh, beliau tidak lagi merasakan sakit pada persendian kakinya. begitu siangnya pak haji segera mendatangi dokter langgananannya untuk memeriksakan kesehatan kakinya. Setelah dipoto, ternyata pengapuran pada sendi kakinya telah hilang. Dokternya bertanya, apakah dia telah menjalani operasi?’ Ia menjawab, ‘saya tak pernah operasi, hanya meminta kepada Allah agar disembuhkan. Sang dokter itu mengakui bahwa kalau Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak, semua pasti terjadi.’ Dari berbagai peristiwa yang telah beliau alami, perubahan sifat yang dulunya pemarah sekarang menjadi lebih sabar dan penyayang terhadap keluarganya. Sholat yang dulu tidak pernah dikerjakan, sekarang lebih tertib tepat waktu. Zakat shodaqoh lebih giat dilakukannya. Perubahan sikapnya semakin dirasakan oleh keluarganya sejak sakitnya parah. Begitu luar biasanya Allah memberikan pelajaran kemudian juga menyembuhkan pada persendian yang dideritanya namun juga sekaligus menyembuhkan penyakit hatinya.

‘Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...keyword: doa-doa untuk menghilangkan penyakit, doa menyebuhkan sakit tulang, keajaiban alloh dalam menyembuhkan, free mp3 doa menghilangkan sifat pemarah, iqtisadi nəzəriyyə esaslari kitabi, keajaiban Allah dalam menyembuhkan penyakit berbahaya, keajaiban dalam islam, menghilangkan segala penyakit, mp3 buat menyebuhkan penyakit, mp3 doa minta kesemabuhan tuk orang sakit, naskah pidato tentang zakat harta, yakin allah menyembuhkan, doa agar suami tidak pemarah, doa untuk orang pemarah, doa menghilangkan, doa menghilangkan penyakit, doa menghilangkan segala penyakit menurut islam, doa minta keajaiban Tuhan, doa penghilang penyakit, doa penghilang sakit, doa sakit sendi, doa untuk hilangkan sifat pemarah, doa untuk menghilangkan segala macam penyakit, doa untuk menghilangkan segala penyakit, zakat vs sakit

Selasa, 07 Februari 2012

Sholat dan Arah Kiblat

Bismillah,

Beberapa waktu terakhir ini, saya amati sedang ramai dibicarakan dan diperdebatkan mengenai arah kiblat yg menjadi acuan kaum muslim saat mendirikan sholat. Sebelum membahas lebih jauh mengenai hal ini, ada baiknya saya jelaskan dahulu (tentunya sesuai dengan pengetahuan saya) mengenai kiblat ini.
Kaum muslim, tentunya berdasarkan petunjuk Rasululloh SAW, menjadikan Baitul Maqdis/Masjidil Aqsa di Yerusalem sebagai kiblat sholat yang pertama kali. Dari beberapa referensi yang saya baca, disebutkan bahwa Rasul dan Nabi terdahulu juga menjadikan Masjidil Aqsa sebagai kiblat sholat merela. Kiblat ini berlangsung sekian lama hingga turun ayat Al Qur’an berikut ini,“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (Al Baqarah(2):142)

Ayat di atas turun pada bulan Rajab tahun kedua hijriah. Dengan demikian, ayat ini turun ketika Rasululloh SAW dan para sahabat telah hijrah ke Madinah.
Usai mendapat wahyu ini, maka Rasululloh SAW mengubah arah kiblat sholat, meskipun ada banyak tantangan dan pertanyaan, tidak saja dari kaum muslimin, tapi juga orang Yahudi, kaum kafir, serta kaum munafiq. Perbedaannya, kaum muslim SANGAT MEMPERCAYAI Rasululloh SAW, sehingga pertanyaan dan keraguan mereka otomatis akan sirna karena mereka yakin ini adalah perintah ALLOH SWT.
Demikian sekelumit sejarah arah kiblat.
Mari kita masuk ke bahasan berikutnya.
Belakangan ini, banyak sekali beredar informasi yang berisi himbauan dari kaum ulama, entah itu MUI, Depag ataupun organisasi agama Islam lain, yg mengharapkan kaum muslim Indonesia memperbaiki arah kiblat mereka, disebabkan (menurut mereka) kiblat masjid2 sekarang sudah bergeser sejauh beberapa derajat (saya lupa persisnya berapa besar, tapi info ini saya dapatkan dari televisi). Akibatnya, jika menggunakan arah kiblat yg ’salah’ tersebut, maka kaum muslim Indonesia menjadikan negara di Afrika sebagai kiblat mereka.
Tentu saja hal ini membuat kaget banyak kaum muslim Indonesia. Walhasil, banyak sekali opini dan perdebatan yg muncul. Beberapa artikel yg menurut saya layak untuk dibaca terkait hal ini adalah:
- FATWA ARAH KIBLAT, PBNU: Ketepatan Arah Kiblat Tidak Mutlak
- MUI: Tidak Ada Perubahan Arah Kiblat
- MUI: Kiblat Kalau ke Barat Menghadap Afrika
- MUI: Kiblat Bergeser, Tak Perlu Ubah Masjid
- Salat Umat yang Dahulu Tetap Sah!
- MENTERI AGAMA: Tak Perlu Resah Pergeseran Kiblat
- Masjid Al-Azhar:Arah Kiblat Kami Sudah Sesuai
- Sekitar 1.000 Masjid di Bekasi Salah Arah Kiblat
Dari artikel2 yang saya bagikan di atas, saya merasa wajar jika banyak umat yg merasa khawatir dengan sholat yang telah mereka lakukan. Mereka takut jika sholat mereka sia-sia dan tidak berarti.
Menurut pengetahuan saya, meskipun penting tapi aturan sholat menghadap kiblat tidaklah sekaku dan sesulit yang dibayangkan. Dalam beberapa kali pengajian yang pernah saya ikuti, dijelaskan bahwa sholat menghadap kiblat bisa ‘tidak berlaku’ apabila:
- sholat dalam kendaraan. Anda bisa bayangkan betapa repotnya jika aturan menghadap kiblat diterapkan pada kaum muslim yg sholat di kendaraan. Mereka mesti mengubah posisi berkali-kali, yang tidak saja merepotkan orang/penumpang lain tapi juga mengurangi kekhusyukan sholat itu sendiri.
- tidak mengetahui arah kiblat secara pasti. Dalam satu pengajian disebutkan, jika kita tidak tahu pasti arah kiblat maka kita ‘boleh’ sholat menghadap salah satu mata angin. Ayat yang menjadi panduan adalah sebagai berikut,“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah(2):115)
Selain itu, ada kesalahan persepsi yang berlaku umum di kaum muslim Indonesia, yakni kiblat itu ada di barat! Pernyataan ini bisa benar tapi juga bisa menyesatkan.
Pernyataan itu dianggap benar, karena kiblat kita (Ka’bah) ada di Mekkah yg arahnya di sebelah Barat Indonesia. Sebaliknya, pernyataan tersebut menjadi salah, karena lokasi Ka’bah yg lebih rinci tidak selalu ada di Barat. Bagi muslim Jawa dan pulau2 di bawah garis katulistiwa, Ka’bah berada di Barat Laut, tidak di Barat.
Sebaliknya, jika kita berada di negara2 Barat (benua Eropa dan Amerika) maka kita akan menghadap ke Timur (atau Timur Laut) untuk merujuk ke Ka’bah. *tambahan: ada juga yg menghadap ke Tenggara.sekali lagi, tergantung lokasinya*
Sebuah lelucon pernah saya dengar. Seorang jama’ah haji asal Indonesia, usai pulang haji, saat sholat dia menghadap ke sembarang arah. Alasannya, saat di Masjidil Haram ternyata orang2 tidak menghadap Barat, tapi ada yg menghadap Timur, Utara, dan Selatan. Wajar jika di Masjidil Haram orang tidak harus menghadap Barat, karena yg penting adalah menghadap Ka’bah.
Kembali ke permasalahan arah kiblat.
Lantas, bagaimana kita menyikapi tentang kiblat ini? Saran saya, usahakan mendapat arah kiblat yg benar, terutama di masjid-masjid. Jika perlu, gunakan kompas. Namun, jika kita memang terbatas alat dan ilmunya, maka kita bisa kira-kira sendiri, dengan asumsi bahwa para pembaca ada di pulau Jawa, maka arah kiblat (Ka’bah) adalah ’sedikit’ ke arah barat laut.
Salah satu referensi untuk menentukan arah kiblat bisa dibaca di sini. Anda juga bisa memanfaatkan situs pencari kiblat.
Semoga kita tidak dipusingkan lagi dengan hal2 seperti ini.

Sabtu, 04 Februari 2012

SHOLAT TAHAJJUD

Assalamualaikum Wr. Wb. Ada sebuah rahasia penting yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Sebuah rahasia yang maha dahsyat bila anda rutin melaksanakan sholat sunah Tahajud. Sholat yang dilaksanakan sepertiga malam dengan penuh keheningan, karena di saat itu banyak orang yang tertidur lelap. Pada saat itulah sebaiknya anda bangun dari tidur. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunah Tahajud. Boleh anda laksanakan 2 rakaat ditutup dengan witir 1 rakaat. Boleh juga 8 rakaat dan ditutup dengan witir 3 rakaat. Bila anda sanggup, boleh juga sampai 23 rakaat. Berikut tentang sholat Tahajjud, cekidot guys !
Shalat Tahajjud
Shalat Tahajud adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu malam, dimulai selepas isya sampai menjelang subuh. Jumlah rakaat pada shalat ini tidak terbatas, mulai dari 2 rakaat, 4, dan seterusnya. A. Pembagian Keutamaan Waktu Shalat Tahajud 1. Sepertiga malam, kira-kira mulai dari jam 19.00 samapai jam 22.00 2. Sepertiga kedua, kira-kira mulai dari jam 22.00 sampai dengan jam 01.00 3. Sepertiga ketiga, kira-kira dari jam 01.00 sampai dengan masuknya waktu subuh. B. Niat shalat tahajud: Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa. Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah” C. Doa yang dibaca setelah shalat tahajud: Rabbanaa aatina fid-dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa adzaaban-naar. Artinya: “Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.” Dalam hadits Bukhari dinyatakan, bahwa rasulullah jika bangun dari tidurnya di tengah malam lalu bertahajud membaca doa: ‏اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ ‏ ‏وَمُحَمَّدٌ ‏ ‏حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَوْ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ Allahumma lakal hamdu anta qayyimus samaawaati walardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu laka mulkus samaawaati wal ardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu nuurus samaawaati wal ardhi, wa lakal hamdu antal haqqu wa wa’dukal-haqqu wa liqaa’uka haqqun wa qauluka haqqun wal-jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wan-nabiyyuuna haqqun, wa Muhammadun shallallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, waass’atu haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakaltu wa ilaika anabtu wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu, wa maa akhkhartu wa maa asrartu, wa maa a’lantu antal muqaddimu wa antal mu’akhiru la ilaaha illa anta aula ilaaha gairuka wa laa haula quwwata illa billah. Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah penegak langit dan bumi dan alam semesta beserta segala isinya. Bagi-Mulah segala puji, pemancar cahay langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engakaulah yang haq, dan janji-Mu adalah benar, dan surge adalah haq, dan neraka adalah haq, dan nabi-nabi itu adalah haq, dan Nabi Muhammad adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mulah kami berserah diri (bertawakal) kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepada-Mulah kami rindu, dan kepada engkaulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan dan sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan ynag terakhir. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau Allah Rabbul alamin. Tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” D. Setelah itu, perbanyaklah membaca istigfar sebagai berikut: Astagfirullaahal azhim wa atuubu ilaiih Artinya: “Kami memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung dan kami pun bertaubat kepada-Nya” E. Keutamaan Shalat Tahajud Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi) Bersabda Nabi Muhammad saw: “Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam.” (HR Muslim) Selain itu, Allah sendiri juga berfirman: Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji. (QS Al-Isra’: 79) Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad) “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad) F. Kiat Mudah Shalat Malam/Qiyamullail Agar kita diberi kemudahan bangun malam untuk melakukan shalat malam, cobalah tips-tips berikut ini: 1. Aturlah aktivitas di siang hari agar malamnya Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap. 2. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur. 3. Hindari maksiat, sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.” 4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya. 5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 6. Baik juga jika janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone. 7. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program tahajud bersama sekali atau dua malam dalam sepekan. 8. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya. Semoga bermanfaat yaa guys :) Wassalamualaikum Wr. Wb.

SHALAT DHUHA

Assalamualaikum Wr.Wb. Saya disini akan memberikan sedikit pengetahuan tentang Shalat Sunnah Dhuha
Shalat Dhuha
Shalat Dhuha adalah sholat sunat yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 9.00 ). Shalat Dhuha lebih dikenal dengan sholat sunat untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya ” ( HR.Hakim dan Thabrani ). Cara Melaksakan Shalat Dhuha : Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid ( tidak berjamaah ), caranya sebagai berikut: * Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram * “Aku niat shalat sunah Dhuha karena Allah” * Membaca doa Iftitah * Membaca surat al Fatihah *Membaca satu surat didalam Alquran.Afdholnya rakaat pertama surat Asysyams dan rakaat kedua surat Allail * Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali * I’tidal dan membaca bacaanya * Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali * Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya *Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali *Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas. Doa Sholat Dhuha: اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ “Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha adalah waktu dhuhaMu dan keagungan adalah keagunganMU, dan keindahan adalah keindahanMU, dan kekuatan adalah kekuatanMU, dan kekuasaan adalah kekuasaanMU, dan perlindungan adalah perlindunganMU, Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika jauh, maka dekatkanlah, dengan berkat waktu dhuhaMU, keagunganMU, keindahanMU, kekuatanMU dan kekuasaanMU, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMU yang sholeh.” Semoga Bermanfaat. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Berbagai Motivasi Orang Beribadah

Bismillah,
Saudara-saudaraku, banyak sekali motivasi orang beribadah. Dari berbagai pengalaman dan cerita, saya merangkum beberapa di antaranya.

Sekedar gugur kewajiban
Ini adalah tingkatan paling bawah (menurut saya). Yg penting sudah selesai mengerjakan, selesai urusan. Tidak dipikir apakah saat ibadah dia bersungguh-sungguh atau apakah ALLAH SWT menerima ibadahnya.

Mencari pahala
Percaya atau tidak, masih banyak di antara kita, bahkan yg sudah tua, menjadikan pahala sebagai tujuan beribadahnya. Tidak heran, jika ada yg berhitung dengan teliti untuk ibadahnya di bulan Ramadhan ini.
Dia berhitung seperti ini. “Saya tidak sholat wajib selama 1 tahun. Berarti saya ketinggalan sholat wajib sebanyak 365x5 = 1825. Di bulan Ramadhan ini, sholat wajib dihitung 10x. Berarti jika saya sholat wajib sebulan penuh (sebanyak 150 kali) dan ditambah sholat sunnah (yg nilainya dianggap sama dg sholat wajib) sebanyak 30 kali, maka saya lunas sudah hutang sholatnya.”
Atau ada juga yg lebih ekstrim. Dia naik haji lalu berhitung bahwa sholat di Masjidil Haram nilainya 100 ribu kali daripada di tempat lain. Otomatis, dia berkesimpulan tidak perlu sholat lagi karena masih punya tabungan.

Berharap surga
Mirip dengan di atas, motivasi ini juga sudah menjadi ‘makanan’ dan tujuan bagi kebanyakan orang. Terlebih jika para ulama dan da’i ikut ‘mengompori’ dengan dalil2 ttg imbalan surga. Klop sudah!
Saya tidak menyalahkan saudara2 saya yg masih menggunakan kedua motivasi atas utk ibadah. Hanya saja, menurut saya, orang yg beribadah karena kedua motivasi di atas mirip dg anak TK/SD yg berharap mendapat imbalan usai berbuat kebaikan.
Motivasi lain yg bisa kita temukan adalah:

Takut neraka
Ada juga orang yg beribadah karena takut dengan neraka. Dia sholat karena takut masuk neraka Saqor. Dia beriman (menjadi muslim) karena takut neraka jahanam.
Orang yg beribadah seperti ini, menurut saya, seperti budak/pembantu. Dia beribadah karena takut dihukum majikannya. Sama seperti motivasi di atas, saya tidak menyalahkan orang yg beribadah karena alasan ini.

‘Berdagang’ dengan ALLAH SWT
Motif ini mirip dg motif mencari pahala. ‘Landasan’ mereka melakukan ini karena menurut mereka ALLAH SWT sendiri ‘menawarkan’ hal ini.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? - (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, - niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff(61):10-12)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah(2):261)

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,” (Al Hadiid(57):11)

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”(Al Hadiid(57):18)
Adapun menurut saya, motif yg ‘baik’ dan sebaiknya diikuti adalah motif CINTA dan BUKTI BERSYUKUR KEPADA ALLAH SWT.

Jika kita melihat kepada kehidupan Rasululloh SAW, hamba-Nya yg ma’sum dan dijamin masuk surga, beliau tetap banyak beribadah (dan sholat malam). Ketika ditanya oleh istrinya (Aisyah), beliau menjawab bahwa ibadah tersebut dilakukan karena rasa syukur kepada ALLAH SWT.

Jadi, apa motif ibadah anda?

Tragedi Pembagian Zakat, Antara Ego Dan Manfaat


Bismillah,

Sebagai salah satu kewajiban kaum muslim (yang mampu dan sudah memenuhi nisab) adalah membayar zakat.
Sayangnya, pembagian zakat di Indonesia seringkali dibarengi dengan permasalahan, yakni adanya tragedi, entah itu para mustahiq pingsan, terinjak-injak, bahkan pernah ada yang meninggal dunia. Padahal jika dicermati dengan seksama, hal ini mestinya tidak perlu terjadi.
Saya sendiri beranggapan tragedi zakat seperti ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Keyakinan dan anggapan ini didasarkan pada EGO yang dimiliki oleh para muzakki.
Barangkali saya didasari suudzon (buruk sangka) kepada para muzakki ini, dengan menganggap para muzakki ini mementingkan EGO. Saya berharap suudzon saya salah, namun hal ini saya rasa beralasan karena sebenarnya badan zakat di Indonesia sudah cukup banyak dan kinerjanya sudah lebih baik. Sehingga, MESTINYA, para muzakki ini cukup menyerahkan zakat mereka kepada badan ini, dan biarkan badan ini yang bekerja, mendistribusikan zakat dengan baik dan sesuai dengan porsinya.
Bagi saya, menyuruh para mustahiq datang berbondong-bondong, terlebih sampai terjadi kericuhan dan tragedi, adalah hal yang merendahkan martabat para mustahiq. Kesannya bossy sekali yak? Selain itu, hal seperti ini akan membuat distribusi zakat tidak akan sampai dan sesuai dengan tujuannya.
Mestinya, para muzakki itulah yg datang ke tempat para mustahiq. Terlebih jika ada data statistik tentang jumlah warga miskin, hal ini akan sangat memudahkan pembagian zakat.
Sayangnya, semua ‘kemudahan’ ini masih ‘ditutup’ dengan kepongahan dan egoisme para muzakki. Terlebih dengan adanya bisikan setan yang akan membisikkan dan meniupkan sifat riya’ dan sum’ah ke dalam lubuk hati.
Bagaimana menurut anda?

Kamis, 02 Februari 2012

CARA KHUSYU DALAM SHALAT


Pengertian khusyu dalam Shalat
Kata Khusyu berasal dari kata khasya’a yang berarti tunduk, menyerah. Khusyu dalam shalat diartikan sebagai optimalisasi ketundukan jiwa dan penyerahan diri secara total kepada Allah, sebagaimana ikrar kita dalam doa iftitah
Khusyu dalam shalat adalah pekerjaan bathin yang tidak di dramatisir oleh penampilan fisik, sayidina Umar Bin khatab RA pernah menegur seseorang yang membungkuk dalam shalat, dengan mengatakan “Khusu tidak mesti seperti itu, bahkan khusu juga tidak mesti mengabaikan lingkungan sekitar” Rosulullah SAW pernah memperpendek shalatnya, lalu seusai shalatnya sahabat bertanya, Ya Rosululloh kenapa shalatnya lebih pendek tidak seperti biasanya? Rosulullah SAW menjawab “Apakah kalian tidak mendengar seorang anak menangis di belakang, itu mungkin orang tuanya  sedang shalat. Pada kesempatan lain Rosululah pernah sujud lebih lama dari biasanya. seusai shalat sahabat bertanya Ya Rosululloh mengapa sujudnya lebih lama? Rosulullah menjawab “Cucuku sedang bertengger dipundakku, aku khawatir kalau aku bangkit cucuku akan terjatuh”.
Berikut ini ada beberapa cara untuk kita bisa khusyu dalam shalat :

1.    Memperbaiki Niat
Niat memiliki tiga unsur pokok, Pertama sebagai ikrar kesungguhan untuk melakukan sesuatu dengan sepenuhnya dengan didasari keinginan luhur untk mencapai ridlo Allah SWT. Kedua : Mengandung makna permohonan atau pertolongan Allah untuk mencapai kesuksesan terhadap apa yang akan dilakukan. Ketiga : Tersirat rasa kepasrahan diri secara total kepada kekuasaan Allah SWT. Dengan demikain niat seperti ini dapat menghantarkan kita kepada situasi psikologis tertentu yang memungkinkan untuk melaksanakan pekerjaan ibadah dengan tenang.
Niat disini mencakup niat wudlu sebagai prasyarat untuk sahnya shalat dan niat shalat itu sendiri, ketika kita dianjurkan berada dalam situasi bathin tenang, yang memungkinkan  ketiga unsur niat tersebut terwujud, niat perlu diantar dengan suasana bathin yang tenang, niat yang baik akan berpotensi untuk mewujudkan perbuatan atau ibadah yang sukses.

2.    Khusyu ketika berwudlu
Seorang ulama pernah menyatakan “Bagaimana seseorang akan mencapai khusyu’ dalam shalat jika tidak khusu ketika berwudlu, khusyu ketika berwudlu sangat dianjurkan, itulah sebabnya Rosulullah SAW menetapkan tata cara berwudlu yang kemudian dperinci menjadi sunnat dan makruh wudlu. Dianjurkan juga untuk segera shalat semasih anggota badan kita  lembab. Antara pelaksanaan wudlu dan shalat sedapat mungkin kita tidak mengucapkan kata-kata “dunia”, apalagi menceritakan aib orang lain, karena yang terakhir ini dapat menghilangkan fibrasi wudlu, selanjutnya wudlu kita tidak lagi dapat mengantarkan orang untuk memperoleh kualitas shalat yang lebih baik, begitu juga wudlu yang kita lakukan dengan baik sebagaimana yang disebutkan diatas Insyaallah akan mengantarkan kita kepada suasana batin baik dalam shalat atau iabdah lainya

3.    Lakukan Amalan prolog (sebelum) Shalat
Ada amalan-amalan yang harus atau sebaiknya kita kerjakan sebelumnya, antara lain menyiapkan tempat, pakaian dan tentu saja badan yang bersih menghadap ke kiblat kemudian adzan dan iqomat, shalat sunat rowatib ba’diah atau qobliah, mengupayakan shalat berjamaah, prolog shalat ini mempunyai makna dan hikmah yang amat penting dan menentukan, jika kita melakukan shalat pardu tanpa kondisi batin betul-betul siap, apalagi kalau shalat itu dikerjakan dengan tergesa-gesa sulit dibayangkan adanya intensitas kekhusyuan didalamnya. Dengan melakukan prologpun belum tentu kita dapat mencapai kekhusyuan yang sejati apalagi kalau tidak dilakukan dengan persiapan-persiapan sebagaimana diuraikan. Dan menjemput waktu shalat adalah salah satu permulaan yang sangat dianjurkan karena memang paling apdol kalau shalat itu dilakukan pada awal waktu, selama ini hanya adzan di mesjid-mesjid yang mengingatkan kita kepada shalat itu jarang sekali kita dengan sengaja jauh sebelum adzan itu dikumandangkan kita sudah menyiapkan diri untuk shalat dan sudah berada di mesjid.

4.    Melakukan Shalat dengan Tumaninah
Shalat tuma’ninah adalah shalat yang dilakukan dengan tenang, tidak tergesa-gesa. Shalat bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, misalnya sujud berlama-lama, atau bacaan shalat diperpanjang, namun demikaian shalat yang tumaninah sangat berpengaruh untuk mencapai kekhusyuan seperti yang diharapkan, rasanya sulit berkonsentrasi penuh selama dalam shalat  seperti Sayidina Ali RA ketika tabibnya mencabut anak panah dari kakinya ketika ia shalat, tidak sedikitpun beliau merasa sakit, sekalipun darah menetes bersamaan dengan tercabutnya anak apanah itu.

5.    Menghindari dari perkara yang haram/syubhat
Shalat berarti kita menghadap allah yang maha Suci dan Maha Bersih “Sesungguhnya Allah Maha Bersih, Ia tidak akan menerima sesuatu kecuali yang bersih” sulit rasanya seseorang bisa khusyu dalam shalatnya sementara ia dililit oleh barang atau perkara seperti pakaian atau makanan yang diperoleh dengan cara haram atau Riba, bagaimana mungkin sesorang bisa dekat dengan Allah dalam shalat kalau energi dan pasilitas yang dia gunakan untuk sujud dan ruku terkontaminasi dengan makanan dan pakaian yang tidak halal. Pakaian shalat yang di anjurkan rosulullah SAW ialah pakaian yang berwarna putih atau paling tidak pakaian yang tidak bergambar dan bersih disamping kita harus memilih tempat yang betul-betul bersih di dalam mesjid atau di tempat lain dengan shaf yang paling terdepan kalau kita berjamaah.

6.    Menonjolkan Kualitas Feminim
Didalam diri kita ada dua kualitas kejiwaan, yaitu kualitas maskulin dan kualitas feminim. Kualitas maskulin yaitu sikap kejiwaan jantan, angkuh, tegar, kasar, mengandalkan kecerdasan intelektual dan sikap-sikap strugging (perjuangan) lainnnya, sedangkan kualitas feminim yaitu sikap kejiwaan yang lembut, halus, sejuk, penyayang, mengandalkan kecerdasan spiritual dan sifat-sifat nurtuiring (pemeliharaan) lainnya.
Pola pendekatan diri kepada Allah dengan kualitas maskulin efeknya kita bisa membayangkan Allah itu trasenden, jauh dan menakutkan. Sedangkan pola pendekatan diri dengan kualitas feminim efeknya kita bisa membayangkan Allah itu Maha Kasih dan maha Penyayang. Sehingga “Didalam shalat Tuhan lebih tepat untuk dicintai daripada ditakuti”
Jika seseorang melaksanakan shalat dengan kualitas maskulin apalagi didominasi oleh kecerdasan intelektualnya, maka biasanya yang terjadi bukannya khusyu kepada Allah, tetapi shalat menjadi waktu dan tempat paling efektif untuk membuat proposal atau menemukan solusi permasalahan di tempat kerja, dan atau insfirasi liar spontanitas bermunculan dalam shalat. Sebaliknya jika yang dominan kualitas feminim apalagi menggunakan kecerdasan spiritual, maka tidak mustahil yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan tersendiri yang sulit dilukiskan, bahkan tidak jarang orang seperti ini meneteskan air mata merasakan keterharuan dan kerinduannya kepada Allah dan Air mata seperti ini dapat mamadamkan gejolaknya api neraka penderitaan seseorang.
Walllahu A’lam Bissowab…..

Rabu, 01 Februari 2012

Sedikit Cara Untuk khushuk Dalam Sholat



Hal utama yang menyebabkan shalat kurang khusu’ atau bahkan tidak khusu’ adalah buru-buru. Setiap melakukan shalat, selalu diingatkan atau dibayang-bayangi oleh hal-hal yang akan kita lakukan setelah shalat atau hal-hal yang terlupakan sebelum shalat, tiba-tiba terlintas dipikiran.


Berikut tips untuk mencapai shalat khusu’:
- Sebelum memulai shalat, niatkan bahwa anda punya waktu 15 menit untuk shalat. Jadi anda tidak perlu terburu-buru dalam melakukan shalat. Segala hal yang akan anda lakukan setelah shalat, masih bisa menunggu setelah 15 menit ini berlalu.

- Lakukan shalat dengan sadar, artinya anda tahu & sadar rukun apa yang sedang anda lakukan atau bacaan apa yang sedang anda baca. Bacalah bacaan shalat secara perlahan dan lemah lembut. Tidak perlu terburu-buru karena anda punya waktu 15 menit untuk shalat ini.

- Ketika melakukan gerakan shalat, sempurnakanlah gerakan tersebut terlebih dahulu sebelum memulai bacaan. Misalnya ketika berdiri, berdirilah dengan tegak dan anda sadar & bisa merasakan bahwa anda sedang berdiri. Ketika rukuk, rasakan dengan penuh kesadaran bahwa anda sedang rukuk, sempurnakan gerakan rukuk, baru kemudian memulai bacaan. Ketika sujud, rasakan bahwa anda sedang bersujud, rasakan bahwa tubuh anda sedang bersujud, baru kemudian mulai bacaannya. Triknya jangan memulai bacaan sebelum anda sadar bahwa anda sedang bersujud atau rukuk. Jika perlu menarik nafas, tariklah nafas terlebih dahulu, baru memulai bacaan. Sekali lagi jangan terburu-buru karena anda punya waktu 15 menit untuk melakukan shalat ini.

- Yakinkan dalam hati bahwa Allah SWT sedang memandang kepada anda. Allah sedang mendengarkan bacaan-bacaan anda. Gunakan hati, bukan pikiran. Jika harus menitikan air mata, biarkan air mata anda mengalir, rasakan dengan hati. Jika ada penyesalan terhadap dosa-dosa anda yang telah lalu, rasakan itu, rasakan dengan sangat mendalam, biarkan air mata anda mengalir. Anda akan merasakan begitu rindu dengan Allah, laksana anda baru pulang ke kampung halaman dari perantauan yang telah bertahun-tahun. Jika anda merasakan hal ini ketika bersujud, biarkanlah posisi anda dalam keadaan bersujud, sampai hati anda merasa puas, baru kemudian bangkit dari sujud.
Anda tidak perlu menjadi imam mesjid, seorang ustaz / ustazah, atau pak haji / ibu haji untuk mencapai shalat khusu’. Praktekan tips di atas, Insya Allah anda akan mendapatkan shalat khusu’. Sebenarnya shalat khusus’ bukan diciptakan, tetapi kita menyiapkan diri untuk menerima kekhusukan itu dari Allah SWT. Allah akan memberikan rasa khusu’ jika jiwa kita sudah siap menerimanya. Sedikit atau banyak dosa yang telah anda lakukan TIDAK AKAN MENGHALANGI anda untuk menerima kekhusukan dari Allah. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Maha dapat diartikan tidak terbatas, banyak dan berlimpah.
Perlu latihan yang terus menerus untuk mencapai shalat khusu’. Jika sudah mencapai rasa khusu’, pertahankanlah. Jika kadang kala hilang, ulangi lagi tips di atas. Karena hati kita laksana air laut, kadang pasang, kadang surut.
Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mencapai shalat khusu’.